Tanggapan Murtado untuk Jamaludin

February 21, 2012
By

Agar terjadi dialektika intelektual dan membangun kedewasaan, kami menempatkan aspirasi anda sebagai hal utama. Kami prioritaskan untuk diunggah di situs pilkadabekasi.com

berikut adalah tanggapan untuk Jamaludin, warga Sukamekar, Kec Sukawangi kepada dari Murtadho…selamat menikmati -redaksi

 

E-mail : murtado_mds@yahoo.co.id
URL    : http://murtado_mds@yahoo.co.id
Comment:
Dear, Bang Jamal saya hanya ingin menambahkan.  Kondisi yang terjadi sekarang adalah dampak dari keterbelakangan pengetahuan warga bekasi saat itu ( periode 1970 – 1980 ), dimana dengan mudahnya para petani pemilik lahan saat itu menjual lahannya kepada pihak lain misalnya kepada tuan tanah atau warga luar bekasi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan itu semua diantaranya; 1. sistem pertanian saat itu belum maju seperti saat ini sebagaimana kita ketahui kabupaten bekasi belum mempunyai sistem irigasi yang memadai, kalau musim hujan kebanjiran dan kalau musim kemarau kekeringan, kalaupun mereka bisa panen, sistem penjualan yang dikuasai para tengkulak dan tuan tanah yang memainkan harga gabah seenak perutnya, ini yang membuat nasib petani semakin terpuruk. Akhirnya para petani pemilik lahan kecil semakin prustasi dengan kondisi seperti ini, hingga pada puncaknya mereka menjual lahan pertaniannya untuk menutupi beban hidup sehari – hari, kemudian mereka berbondong – bondong ke
jakarta beralih propesi menjadi penarik becak, tukang sayur, tukang minyak tanah dsb.2. Godaan bergaya hidup mewah salah satu penyebab petani menjual lahan pertaniannya, misalnya ingin membelikan anak motor atau untuk  membiayai pesta pernikahan anakanya ( walaupun sang anak belum punya penghasilan )dengan pesta yang meriah saat itu pesta pernikahan dengan “nanggap Layar tancep dan jaipongan dari karawang ” yang punya hajat jadi nyohor. 3. Sebagaimana kita ketahui suka tidak suka istilah “Jawara” di Bekasi adalah sebuah predikat yang saat itu cukup disegani dikalangan masyarakat. salah satu ciri “Sang Jawara” adalah beristri lebih dari satu orang, kemudian mereka cari jalan pintas dengan menjual sawah untuk beristrikan “wadon” yang lebih muda, kalau bisa mereka cari kembang desa atau “sinden yang kesohor”, masalah belum selesai sampai disini, karena mereka tidak punya penghasilan tetap sementara kebutuhan hidup semakin bertambah dan untuk menutupi itu semua pada akhirnya mer
eka kembali menjual lahannya. Mungkin ini sebagian kecil contoh kenapa petani di kabupaten Bekasi hampir 90 % adalah petani penggarap atau buruh tani di lahannya sendir. Dan salah satu Tugas Bupati terpilih ke depan adalah bagaimana para petani yang 90 % ini tidak semakin terpuruk nasibnya, sementara anak – anak mereka yang hanya lulusan SMP atau SMK juga tidak mendapatkan pekerjaan di wilayahnya sendiri ( yang kata orang luar bilang Bekasi kota Industri ) tapi pada kenyataanya orang Bekasi hanya jadi penonton saja…..Tragis……

Terima kasih Bang Jamal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Komando!


User Login